Little World

Little World

Rabu, 23 Juli 2014

Perjuangan Sahabat


***

Sejak kecil aku begitu mencintai dunia permainan tradisional. Entah itu main kelereng, sepak bola ala anak kampung, main gangsing, cetoran, petak umpet, polisi-polisian, benteng-bentengan dan banyak lagi deh. Dari permainan sederhana itu, aku tau apa arti kebahagiaan, keceriaan dan kebersamaan. Dimana kita tidak bisa melakukan hal itu sendirian, kita pasti membutuhkan partner yg bisa mensupport kita walau kadang kala ada miss komunikasi dengan partner kita namun dari situlah aku menemukan apa itu teman dan kebahagiaan didalamnya. Kalau waktu itu sih mungkin aku masih berpikiran apa itu teman dalam ruang lingkup dan konteks sederhana saja. Yang aku pahami teman saat itu hanya seseorang yg menemani dan mengajak kita bermain dan menemukan gelak tawa yang menyenangkan. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai berpikir panjang tentang pertemanan itu sendiri. Aku memang sangat menginginkan sosok seorang adik. Sudah beberapa kali aku menceritakan kepada mama sama ayah kalau aku ingin sekali memiliki seorang adik. Namun mama dan ayah tidak mengiyakan permintaanku sebab mamaku memang sudah tidak ingin mengandung lagi mengingat usia dan menceritakan beberapa hal kepadaku ketidak siapan mama untuk memiliki buah hati sekaligus yang nantinya akan menjadi bakal adikku. Dan aku mulai mengerti dan memahaminya karena aku paham aku tak bisa memaksakannya. 

Namun untuk hasrat memiliki seorang adik atau saudara masih begitu besar dalam diriku. Aku anak kedua sekaligus terkahir setelah kakak perempuanku. Kakak perempuanku salah satu mahasiswi di Universitas Jember, dan sekarang sudah mendapat gelar S1 beberapa bulan lalu. Aku terlahir dari seorang ayah yang menurutku sangat otoriter dan ditaktor *bercanda ya yah hehehehe* dan ibu seorang PNS guru sekolah dasar negeri. Mereka membimbingku dengan sangat sempurna ya walau masih ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan pemikiranku namun menurutku mereka telah mengajariku dan membimbingku dengan sangat baik. 

Aku anak laki-laki yang sangat sering membangkang dengan ayahku. Sering kita miss komunikasi dan saling berdiam diri ketika masa-masa pertentangan kita *hahahahaha*. Namun bukan berarti kita akan terus berperang, bukan. Kita sangat kompak seperti teman sendiri, jangan salah loh ya. Ayah dan aku memang sudah seperti teman, begitu dekatnya dan begitu istimewanya beliau membuat aku menempatkan beliau sebagai salah satu inspirasiku. Begitu pula dengan ibuku, beliau sangat sabar dan telaten padaku. Ibuku sangat mendukung apa yang aku lakukan selagi itu memiliki dampak positif. Ibu selalu mengarahkanku pada kebaikan-kebaikan dan selalu menceritakan padaku pengalaman dimasa lalunya dan tentu saja aku menikmati itu dan mengambil beberapa hikmah besarnya. Untuk kakakku, ya dia sangat baik padaku. Sering kali kita berjanjian untuk mensukseskan rencana kakakku untuk "dating" dengan cowoknya dan sebagai imbalannya aku dibelikan kaos, makanan dan semacamnya. Kenapa begitu? ya, karena kakakku selalu dipantau ayahku yang super duper ditaktor tersebut *hahahahaha* Namun memang alasan ayah menurutku baik, namun kadang kala kita sebagai anak remaja pada umunya tidak bisa lepas dari kenyataan hidup seorang remaja tentang apa itu dating, dinner, nongkrong dan semacamnya.

Aku sangat menginginkan adik, "kenapa?" karena aku juga ingin ada diposisi sebagai seorang kakak. Dimana aku sebagai contoh adikku, menjaga adikku, dan menyayanginya. Aku sangat ingin ada diposisi itu. Tapi banyak hal yang aku temui tentang pernyataan seorang kakak yang menjadi kakak dari adik-adiknya. Banyak kakak yang malah ingin menjadi adik karena beberapa alasan. Menurutku sih mungkin karena si kakak belum bisa mengatur dirinya sendiri makanya mereka berkata seperti itu tapi itu manusiawi sih aku juga memahaminya.
Kenyataan bahwa aku tidak akan memiliki adik kandung karena alasan-alasan mamaku sedikit demi sedikit aku menerimanya. Tapi seperti yang aku bilang tentang hasratku tadi, aku masih ingin memiliki seorang adik. Nah dari situlah aku mulai memutar otak. "Apa bisa aku menemukan seorang teman yang bisa aku jadikan seorang adik?" itu yang selalu aku jadikan patokan dalam pertemananku. Aku yakin suatu saat nanti aku akan menemukan seorang teman yang memang benar-benar bisa aku jadikan saudaraku sendiri, aku jaga mereka dan aku sayangi mereka. Kenapa aku bilang :"suatu saat nanti?" karena memang tidak mudah dan tidak dalam waktu sebentar menemukan sosok teman yang bisa aku jadikan saudaraku dan mereka bisa menerimaku menjadi saudaranya seperti aku menganggap dia saudaraku. Karena apa, karena memang kita bukan satu ibu. Akan sangat sulit aku temukan sosok seorang teman ideal yg seperti yang aku inginkan. Dari lain ibu inilah yang menyulitkanku, aku harus bisa lebih peka dalam memahami karakternya.
Waktu berjalan, aku terus mencari sosok teman idealku. Oh iya, asal kalian tau aku begitu sangat menghargai sebuah pertemanan apalagi sebuah persahabatan. "Kenapa?" Karena keinginaknu memiliki seorang saudara tadilah yang membuatku seperti ini. Aku juga berkomitmen banyak hal dengan diriku sendiri. Aku juga telah banyak membaca blog orang lain tentang sebuah persahabatan, apa itu sahabat, bagaimana menjadi seorang sahabat yang baik, ciri-ciri sahabat yang baik dan banyak hal deh. Itu aku menelusurinya sampai aku bosan membacanya *hahahaha*
Namanya juga masih anak kecil, aku begitu meyakininya sehingga sampai sekarang aku masih meyakininya. Aku seperti mendoktrin diriku sendiri tentang persahabatan itu tadi *hahahaha*
Banyak orang menulis "...sahabat adalah mereka yang selalu ada disaat kita terpuruk." ada juga lagi yang menulis gini "...sahabat adalah seseorang yang tau tentang kejelakanmu, dan banyak orang meninggalkanmu namun dia tetap bertahan untuk menemanimu itulah sahabat..". Aku yang masih kecil saat itu, sangat terinspirasi dengan kalimat-kalimat itu. Bagaimana tidak, aku yang menginginkan memiliki seorang saudara kemudian aku membaca tulisan-tulisan seperti itu dalam keadaan sangat labil dan seketika aku meyakininya, aku begitu tergiur, memimpikan memiliki sahabat seperti itu dan parahnya lagi aku berpikiran "Dari sebuah persahabatan itulah aku kan menemukan banyak saudara bukan lagi seorang saudara melainkan banyak saudara." *hahahahaha* Aku berambisi dan memompa semangatku menemukan seorang sahabat kala itu. 
Berjalannya waktu, tentu saja aku berteman dengan banyak anak. Namun aku masih saja belum menemukan sosok sahabat seperti apa yang mereka tulis dalam blog mereka itu. Ya sedih sekali, hampir saja aku mulai lelah dan kehilangan keyakinanku.
Melenceng sedikit gapapakan ya. Ini cerita yang menyadarkanku dan mengembalikan keyakinanku dalam pencarian "siapa itu sahabat?"
Saat itu, aku sudah mengenal apa itu istilah pacaran. Tentu saja aku kenal, sebab kakakku sudah sering membicarakan hal itu. Aku juga baca-baca blog tentang hal ini dan aku sedikit tau apa itu dating dan semacamnya. Dan suatu ketika, aku menjalin sebuah hubungan dengan kakak kelasku. Ya seperti biasa, ini yang dinamakan "Pacaran" itu sendiri. Awalnya aku hanya mengikuti saja, karena memang aku masih kecil dan pacarku sendiri adalah kakak kelasku. Banyak cibiran tentang pacarku, yang dikatain inilah, dijelek-jelekin itulah, nyuruh aku mutusin dia lah. Tapi gatau kenapa, aku masih aja bertahan dengannya. Sampai parahnya lagi aku sempat digosipin yang sangat tidak terduga kala itu sebab aku sendiri masih sangat kecil dan mana mungkin aku melakukannya. Aku aja masih gak ngerti gimana melakukannya. Itulah masa-masa menyebalkan menurutku.
Oke balik lagi, awal-awalnya aku hanya mengikuti saja namun kelanjutannya ternyata dia memang sangat baik dan perhatian padaku. Akupun lantas membalas kebaikan dan perhatiannya, aku berusaha menjadi dewasa saat itu walaupun umur masih piyik *hahahahaha*. Beberapa kali merasakan hal aneh, entah disaat aku membuka pesan darinya kemudian aku tertawa sendiri, terus ketika aku dicuekin dan akunya ga suka, dia keluar dengan temannya tidak pamit aku marah-marah, dia deket dengan cowok lain aku cemburu. Nah itu, itu yang mengherankan. Aku bertanya pada diriku "Ini yang namanya sayang?". Oh tuhan, beruntung sekali aku bisa merasakannya.
Berjalan berbulan-bulan, yang namanya masalah sudah pasti ada itu sudah bukan rahasia umum lagi. Rasa sayang itu semakin tinggi kadarnya. Rasanya tidak mau kehilangannya karena sudah banyak hal yang kita lalui bersama dari yang mulai ingin menjatuhkan kita dengan gosip murahan sampai dugaan perselingkuhan *hahahahaha*. 
Namun dimasa rasa sayang itu kian meluap, aku menemukan kenyataan dimana dia harus meninggalkan aku untuk selama-lamanya. Sontak aku sangat down dan sangat terpuruk. Aku mendapat info itu ketika aku masih duduk dibangku SMP saat itu aku masih kelas 1 SMP didaerahku. Hari aku mendapatkan info itu tepatnya dihari senin dimana saat itu ada banyak teman-temanku mengabari itu dan aku tak mempercayainya. Sewaktu kita dikumpulkan untuk upacara ternyata hujan turun. Kita pun diurungkan untuk upacara bendera. Tiba-tiba gerombolan anak OSIS berjalan dari ujung menuju ke tiap kelas. Sampai akhirnya, perwakilan OSIS itu masuk kekelasku dan mengabarkan berita kematian itu. Saat itu juga aku sangat tidak bisa menerimanya, aku berada dalam kondisi dimana aku sangat dibawah. Aku mendiamkan diriku selama disekolah. Bel pulang sekolah berbunyi dan aku mnyegerakan untuk pulang. Sesampai dirumah aku sangat terpukul dan menceritakan berita ini kepada ibuku. 
Bayangkan saja, diusiaku yang baru saja masuk angka belasan tahun harus berhadapan dengan kenyataan seperti itu. Disaat aku merasakan apa itu perhatian, peduli, kasih sayang dari lawan jenisku, disaat itu juga ak harus menerima kenytaan bahwa dia tak ada lagi dihadapanku bukan dalam skala temporary tapi untuk selamanya. Bukan perkara mudah untuk menyegerakan diri melupakan segala hal yang menurut kita itu sangat berkesan, bukan tidak mungkin seseorang yang mengaku dirinya dewasa jika ada diposisiku mereka mampu setegar seperti apa yang banyak orang katakan. Dari situ aku merasa gagal dalam menjaga orang yang telah menyayangiku, dan banyaknya hari yang ku lalui aku mulai berkomitmen tinggi untuk benar-benar menjaga siapapun mereka yang baik padaku. Aku mulai mengembalikan kepercaya dirianku lagi dan mulai menata kembali banyak hal.
Aku menemui banyak karakter teman-temanku, sesekali aku sempat menemukan seseorang yang menurutku itulah sahabat. Namun hanya karena beberapa kesalah pahaman kitapun menjadi bertentangan. Bertentang hebat diluar dugaanku selama ini. Mungkin karena kita masih dalam usia sangat muda yang mungkin sangat labil dan mudah terpengaruh. "Menyesal?" tentu sangat menyesal, kenapa tidak seperti apa yang aku baca di coretan-coretan dalam blog orang-orang itu. Sempat ragu lagi, dan nanya ke diri gue sendiri "Ada gak sih sahabat itu?". Tapi aku jg tau diri, aku berani bertanya tapi kalau belum mebuktikannya sendiri dan merasakan sendiri mana aku tau jawabannya. Oke, kali ini saya mencoba kembali dan sangat penasaran.
Masuk masa SMA, aku bertemu dengan orang-orang baru. Tapi memang tidak menutup mata kalau kebanyakan yang masuk ke SMA yang aku pilih adalah teman-temanku sewaktu SMP juga. Aku bertemu dengan wajah-wajah baru. Aku masih menjaga image, dan berusaha mengikuti saja suasananya. Aku masuk dikelas "X 'E'ksekutif", kelas dengan anak-anak diluar dugaan juga. Awal kita berkenalan, terasa sangat kaku dan membosankan. 7 hari terlewati, masih saja membosankan dan menyebalkan. Namun, berjalannya waktu kita berubah. Rasa kekeluargaan mulai terpupuk dan terbina baik dikelas kami. Berawal dari kegiatan out bound yang dilaksanakan oleh sekolah sebagai salah satu program sekolah dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas kami sebagai peserta didik baru disekolah tercinta kami ini. Diberbagai kesempatan dalam menguji kebersamaan kelas kita, kelas kita sangat membanggakan. Kami sangat impresive dan begitu dominan. Baru kali ini saya sangat merasakan hal yang begitu menyenangkan seperti masa kecilku dulu. Tidak tau kenapa, kedewasaan yang aku bentuk sewaktu SMP *belum pada waktunya* sedikit demi sedikit luntur. Aku kembali menjadi kekanak-kanakan dan sangat bosan ketika dihadapkan dengan kondisi dimana hariku harus sepi tanpa ada hiburan. Sebagai strategi menghilangkan kebosananku, aku sering bermain dengan teman-temanku walaupun hanya bermain ala kadarnya. Mungkin hanya bermain kerumahnya, main PS dan semacamnya, makan bareng, tidur siang, kadang juga aku menginap kerumahnya bersama satu temanku. Hinggap pada akhirnya kita seperti saudara sendiri. Aku sangat sering menghabiskan waktuku dengan mereka, aku menemukan kenyamanan dalam sebuah pertemanan. Ya saya tak pernah mengira akan seperti ini. Walaupun dianatara kita  bertiga memang sangat berbeda karakter satu sama lain. Kemudian terbayang dengan kegagalanku yang terjadi dimasa lalu, aku sangat berusaha menjaga hubungan pertemananku ini. Dilain sisi, aku juga berteman dengan lawan jenisku. Awalnya aku mengira kita hanya teman biasa dan tidak akan pernah sedekat seperti suadaraku sendiri. Namun, pada kenyataannya akupun merasa nyaman dengannya. Bukan sebagai seorang pacar atau apalah. Aku merasa nyaman menjalin sebuah pertemanan bahkan sebuah persahabatan yakinku. Kebanyakan yang aku lihat, perempuan jarang menerima sahabat laki-laki mungkin karena banyak opini publik kalau laki-laki sekarang hanya bermodus saja menjalin sebuah pertemanan hanya untuk ingin mengambil hatinya dan memacarinya. Namun itu tak terjadi padaku, aku sangat menghargainya sebagai sahabat. Banyak hal juga aku lewatkan dengannya dari belajar bersama, berbagi cerita bersama, bermain bersama, menangispun bersama *hahahahaha*. Ya, saya sangat menyayanginya sudah seperti saudaraku sendiri. Seperti komitmenku sejak awal, ketika aku menemukan seorang teman yang menurutku cocok dan ideal denganku aku kan benar-benar ingin menjaga hubunganku. Karena dengan cara itulah aku mampu membayar kegagalanku dimasa lalu.
Dialah satu-satunya sahabat perempuanku sampai saat ini. Kebetulan kita juga satu kelas, aku dengan sahabat-sahabatku yang lain dan aku dengan sahabat perempuanku ini dipertemukan dalam satu kelas ini (red : kelas X 'E'ksekutif). Aku sangat bersyukur sekali dengan kesempatan ini.
Aku dengan 2 sahabat laki-lakiku dan 1 sahabat perempuanku beruntung punya keinginan yang sama. Kita masuk dalam ekstrakulikuler paskibra disekolahku hingga bertahan sampai saat ini sedangkan 2 sahabat laki-lakiku yang lain awalnya mereka ikut ekstra robotik namun mereka memutuskan untuk withdrawn dari ekstra tersebut *hehehehe* namun dengan banyak alasan dan pertimbangan loh jangan salah persepsi dulu.
Setahun kita lewati begitu menyenangakn hingga pada suatu hari ketika pemilihan jurusan untuk kekelas berikutnya. Salah satu temanku yang sangat ingin masuk kekelas IPA ternyata tak sesuai dengan harapannya. Dia begitu terpukul dan sedih sekali. Tentu saja aku dan 1 sahabatku sangat empati dengannya. Aku tak ingin melihat salah sahabat-sahabatku bersedih dan terpuruk. Ya selazimnya seorang sahabat, aku terus mensupport dia dan menyemangatinya. Tak ada henti-hentinya aku terus menyemangatinya, ga bosan-bosan deh.
Dan pada akhirnya dia bisa menerimanya dan mulai menjalaninya dengan baik. Ya, aku juga melihatnya seperti sudah mulai nyaman dengan kenyataan itu. 
Kini masalah ada di aku. Karena sudah 1 tahun bersama dengan sahabat-sahabatku dalam satu kelas aku tak mampu melepaskan diriku untuk survive pada kondisi seperti ini. Kondisi dimana aku dan sahabat-sahabatku tidak ada yang satu kelas. Kita sudah ada dikelas masing-masing. Aku dikelas IPA 3, sahabat perempuanku ada dikelas IPA 4, 2 sahabat lelakiku ada dikelas IPA 5, 1 sahabat laki-lakiku ada di IPS 1 dan 1 sahabat laki-lakiku dikelas IPS 2. Ya walaupun kelas kita tidak berjauhan entah kenapa aku sangat memikirkan hal-hal terburuknya nanti. Dan kenyataanpun tak bisa dihindarkan, kita mulai sibuk dengan kesibukan masing-masing. Kita sangat jarang bertemu, kalaupun bertemu intensitas pertemuan kita sudah tidak seperti dulu lagi. Kita seperti orang asing, walaupun masih ber-emblem "Sahabat".
Aku juga masih asing dengan kelas IPA 3 ini. "Kenapa?" karena sewaktu kelas X, banyak waktuku kuhabiskan dengan teman sekelasku itu dan jarang ingin mengenali siswa lain. Al hasil, kali ini aku sangat terlihat bodoh sekali dalam kelas *hahahahaha*.
Suasana kelas sangat berbeda dengan suasana kelas sewaktu aku kelas X dulu. Namun, apa boleh buat aku tidak bisa kembali lagi dalam kenangan masa lalu. Aku harus mampu keluar dari pressure ini.
Berjalannya waktu, aku mulai terbiasa dan aku juga mencoba menciptakan rasa percaya diriku kembali. Aku harus lebih membuka diri dengan lebih intensif berkenalan dengan siswa-siswa lain *tapi bukan berarti aku tidak kenal satupun dari mereka, ada sebagian besar aku kenal namun tidak dekat gitu maksudku*. 
Terus berganti hari, entah kenapa aku sangat gampang menganggao seseorang yang baik denganku sudah aku anggap sahabatku. Ini berawal dari perkenalanku dengan teman tetangga kelasku. Ya, kita baru kenal dengannya walaupun dulu satu SMP denganku namun aku tak pernah tau benar dengannya. Aku dengannya juga satu ekstra, dan baru kenal pas kita kelas 11 ini *Sungguh keterlaluan* *hahahahaha*. Aku menganggapnya teman biasa saja awalnya, kebetulan aku juga tidak jago mengaji dan aku merasa ilmu agamaku masih cetek sekali. Beruntungnya dia adalah anak pondok pesantren juga didaerahku. Dia memang mondok, tapi dia juga sekolah SMA seperti aku. Hanya saja pulang sekolahnya ia pulang ke pondok pesantrennya dan menimba ilmu agama disana. Aku belajar banyak darinya, dia juga baik seperti sahabat-sahabatku terlebih dahulu. Dia mengajariku banyak hal dan akupun tak sungkan mengungkapkan ketidakmampuanku dipelajaran apa. Ketika aku tidak bisa, aku selalu meminta bantuan padanya walau kadang dia juga kesulitan untuk mengajari. Banyak waktu yang kuhabiskan dengannya dibanding dengan sahabatku yang dahulu. Karena memang selain kelas kita dekat, aku juga sering meminta bantuan padanya begitupula dia juga kadang meminta bantuanku.
Selain itu juga kita memiliki hobi sama, sama-sama gemar dengan bulutangkis. Dia selalu menjadi rivalku ketika kita berlatih. Aku sering kalah darinya ketika bermain tunggal, namun aku selalu mengunggulinya disektor ganda. Kita seperti saudara sendiri, dia sering menginap dirumahku. Kita bermain bersama dan kemana-mana bersama. Sampai pernah aku dan dia beserta teman-teman yang lain pada waktu itu bertepatan dengan tahun baru dan kita semua memutuskan pergi ke dataran tinggi dimana salah satu temanku memiliki rumah disana. Dan kita menginap disana, bodohnya batrei handphone kita sama-sama habis ditambah lagi gak ada sinyal disana. Sepulangnya, aku mendapat kabar kalau orangtua kita mencari-cari kita *hahahahaha*. Kita juga sering touring bareng, tour ke jember, tour ke pantai-pantai dimalang selatan juga. Aku dengannya juga sempat satu tim dalam organisasi paskibra disekolahku. Saat itu paskibra disekolahku mengadakan event lomba besar tingkat provinsi. Aku menjadi koordinator hubungan masyarakat, aku berhak memilih anggota-anggotaku. Aku memilihnya masuk dalam timku, karena aku cukup yakin dengan kemampuannya untuk menjadi partnerku. Kita juga sering jadi biang kerok ketika rapat, kita memang sama-sama suka bercanda dan tertawa. Aku dengannya juga pernah satu pleton dalam lomba baris berbaris kreasi variasi disalah satu kota besar diprovinsiku. Aku ingin bertekad memberi kenangan manis untuk sekolahku, untuk ekstra kebanggaanku, dan untuk kebanggaan kita (red : aku dan sahabat baruku itu) aku rela mengahbiskan waktuku mencari-cari gerakan yang rumit. Kami berlatih terus menerus satu bulan penuh. Semangat ingin juara sangat terasa. Ia juga sangat bersemangat, dan aku sebagai sahabatnya tak ingin mengecewakannya. Hingga pada kompetisi dimulai, kami sangat impresive dan sangat berapi-api melakukan gerakan baris dan kreasi beserta variasinya. Ya walaupun masih banyak kekurangan dan kesalahan, namun kami sudah berusaha maksimal. Setelahnya, aku, sahabatku dan anggota pletonku melakukan sholat dhuha bersama. Kami semua berdoa bersama, dan pada pengumuman hasil juaranya. Sungguh sangat mengesankan, kami dapat meraih gelar juara. Kami harus puas diposisi kedua ditingkat provinsi ini. Aku sangat bangga, kerja kerasku tak sia-sia, aku juga mengatakan ini kepadanya. Sungguh menyenangakan mengenalnya.
Tanpa mengesampingkan sahabatku yang terlebih dahulu, aku juga masih sering kumpul-kumpul dengan mereka. Kita juga masih bermain-main bersama ya walau masih sama seperti dengan yang aku ceritakan tadi. Kita jadi sering salah paham, mungkin karena kesalahanku juga terlalu banyak menghabiskan waktuku dengan teman baruku. Terlihatnya aku seperti melupakan sahabat dahuluku. Saya juga menyadarinya, tapi mau gimana lagi aku juga diberi beban dan amanat untuk menyukseskan gelaran lomba paskibraku sehingga banyak waktu yang ku habiskan untuk rapat dengan teman-temanku se-organisasi. Namun aku juga tidak melupakan sahabat dahuluku, aku juga masih membagi waktu kok.
Sampai sempat aku melihat sahabat perempuanku menangis karena dia memiliki beban berat. Baru kali ini aku melihatknya sangat down sekali. Saat itu kebetulan kita melatih adik-adik kelas yang mengikuti ekstra paskibra disekolahku. Dia yang sangat terbebani, dia terlihat murung. Dia bercerita sedikit tentang kegundahannya kepadaku, kemudian dia berlari kearah room center disekolahku. Disana sepi, aku pun mengikutinya. Sontak dia menangis sambil bercerita kepadaku. Aku sebagai sahabatnya, aku berusaha menangkannya. Namun memang dia dalam keadaan benar-benar lelah saat itu. Aku masih mengingat betul kejadian saat itu, aku pun menangis bersamanya. Ya, saya padahal sudah berusaha menahan air mata namun memang sudah tidak dibohongi lagi. Kita terlalu dekat sehingga aku benar-benar kasihan dengannya. Dia menangis habis-habisan, akupun takbisa apa-apa lagi dengannya. Setelah lega, dia berusaha profesional untuk kembali lagi melatih ekstra. Aku bangga padanya, aku bangga dengan sahabat-sahabatku :'(
Lama menjalani hari-hari, dan sudah setahun kita menghabiskan waktu dikelas 11 ini. Kitapun masuk dikelas 12, waktu dimana seperti perjuangan akhir dan masa-masa akhir sekolah kita. Ya, aku sudah masuk umur 18 tahun namun masih saja childish. Masih saja suka dengan main-main dan bereksperimen sendiri. Aku masuk dikelas 12 IPA 5 kebetulan sahabat perempuanku ada dikelas sebelahku. Ia masuk dikelas 12 IPA 4 dan sahabat baruku ada dikelas 12 IPA 6. Kemudian 2 sahabatku yang awalnya dikelas 11 IPA 5 ternyata masih diberi kesempatan untuk satu kelas lagi, mereka masuk dikelas 12 IPA 1. Dan 2 sahabatku yang di jurusan IPS ternyata dikelas 12 ini mereka juga diberi kesempatan untuk satu kelas dikelas 12 IPS 2. Ini awal segalanya menjadi rumit. Aku bermasalah dengan sahabat baruku :'(
Aku menyayangkan hal ini. Aku bertengkar hebat hingga seperti kelas 12 semua ini terpecah menjadi 2 kubu, dia dan aku. Masalahnya sepeleh, hanya karena perempuan. Namun menurutku pribadi, aku merasakan perubahan dari sahabat baruku itu terjadi ketika di perempat akhir kita akan naik kelas ke kelas 12 itu. Dia berubah total, entah kenapa. Dia tiba-tiba menjaga jarak denganku. Ya aku tau, memang kalau kita kalau sudah dekat kita seperti orang gila. Sedangkan pada saat itu, dia lagi dekat dengan dengan seorang perempuan temanku juga. Mungkin dia mau lebih save dan menjaga image sehingga dia melakukan spekulasi seperti ini. Tentu saja saya sangat menyayangkan hal ini, kenapa imbasnya ke saya. Pertanyaan pun timbul lagi dalam diri saya "Apa sebuah persahabatan ketika salah satu diantara kita mengenal cinta, kita akan terpisah?" sedangkan menurut coretan diblog-blog yang aku baca, "sahabat itu jauh lebih luar biasa dan jangan pernah engkau mengesampingkannya hanya karena seorang wanita." Tapi apa? apa coretan-coretan tentang persahabatan itu hanya pembohongan publik, atau memang persahabatan itu tidak pernah ada, atau persahabatan itu hanya tambal butuh bantuan saja? :'(
Ditambah lagi, ketika bodohnya aku yang dekat dengan mantannya. Yang saat itu ternyata sahabat baruku masih menyukainya. Sahabat baruku seperti sangat tidak menyukai kedekatanku. Namun, aku juga memikirkan perasaannya. Aku berusaha menjauhi mantannya itu. Aku sempat berbicara dengannya "Aku luwih milih sahabatku daripada dia. Silahkan kalau kamu suka dengannya, silahkan saja kembali dengannya. Aku tak masalah. Aku jauh lebih memilih sahabatku!" Namun seperti omongan basi, dia seperti menyepelehkanku.dan aku masih ingat kejadian itu. Aku merasa sangat bersalah, aku sangat bodoh. Aku menyayangkan hal ini. Aku kehilangan sosok sahabat baik sepertimu :'(
Sampai pada suatu saat, ekstra paskibraku mengikuti gelaran lomba ditingkat provinsi. Dengan situasi yang kurang mendukung, aku dan dia dalam satu pleton. Sama-sama dibarisan paling depan sebagai ujung tombaknya. Saat itu memang saat-saat sulitku. Aku berusaha terlihat baik-baik saja dan menjaga suasana karena kebetulan ada sebagian kecil dari kami tidak mengetahui permasalahan kami namun pada akhirnya salah satu dari kami mengetahui dan kamipun didudukannya dihadapan satu pleton untuk menyelesaikan masalah ini. Masih saja stuck dan tidak berbuah apa-apa. Dia benar-benar masa bodoh dengan ku. Aku lantas tak tau harus bagaiaman. Tiap latihanpun aku kehilangan semangat juara darinya, mungkin karena dia malas dengan ku :( Dan pada akhirnya, seperti apa yang aku takutkan. Kami gagal masuk dijajaran papan atas juara, kita masuk dijajaran tengah dan harus puas diposisi 6 saja. Aku sangat menyesalkan hal ini, ini sangat berpengaruh bagiku
Berbulan-bulan kita saling berdiam diri. Sangat tidak kondusif sekali :(
Dia berubah total, dari pribadi yang ceria dan senang sekali tertawa berubah lebih dingin dan membosankan. Aku terlecut untuk menanyakan ada apa dengannya, namun jawabnya klasik saja "Tidak ada yang berubah dariku!". Akupun membiarkannya melakukan hal sesuka hatinya. Aku habis cara untuk menyelesaikan masalah ini, dan aku seperti ingin menyerah. Aku merasa ini kegagalanku untuk kedua kalinya. Aku sudah berusaha menjaganya, berusaha selalu ada buatnya, tapi masih saja gagal dan tak menemukan solusinya. Begitupun dengannya, dia seolah tak berusaha mempertahankan persahabatan kami :( 
Walaupun sekarang kita seperti baik-baik saja, namun aku merasa kita seperti orang asing lagi. Entah apa yang terjadi pada batinku tiba-tiba aku seperti memiliki nyawa 10ribu, aku mendapatkan semangat persahabatanku lagi. Aku memotivasi diriku lagi, aku akan terus berusaha mengembalikan keadaan menyenangkan seperti dulu lagi. Sesusah apapun itu, aku tidak akan menyerah. Kamu sahabat baik yang patut aku perjuangkan, aku akan membalas kegagalanku ini dengan mengembalikan masa-masa indah itu sahabatku!



*Sekarang kami semua sudah menjadi Alumni, tepat pada 31 Mei kami resmi di Purnawisudahkan.*



Ya, sekarang kami sudah tidak satu sekolah lagi. Mungkin akan lebih sulit lagi aku bisa bertemu dengan sahabat baruku itu. Begitupula dengan sahabatku yang lain. Namun, bukan aku kalau aku tidak mampu membanggakan sahabatku. Kali ini aku bertekad untuk selalu menjaga sahabatku lagi, berkali-kali aku jatuh aku tak akan menyerah. Demi sahabatku, aku akan melakukan apapun. Aku percaya mereka, sahabatku-sahabatku! Aku percaya kalianlah saudara yang aku cari selama ini. Meskipun aku terlihat bodoh dan menggelikan, tak akan menyurutkan semangatku. *hahahahaha*

Kalianlah teman, sekaligus sahabat, sekaligus saudaraku. Terimakasih banyak selama ini telah memberi coretan hitam, putih, merah dan semua warna dalam hidupku. Terimakasih banyak!


 Andai kalian baca ini suatu saat nanti, aku menitip beberapa kata...


Maaf telah banyak merepotkan kalian dan menyita waktu kalian.Namun aku berusaha untuk selalu menjaga persahabatan ini.Aku konyol, aku terlihat bodoh dihadapan kalian, karena aku hanya inginmenghibur kalian semua.  Maafkan aku, tidak bisa menjadi sahabat yang sempurna."Sahabatku, maafkan aku. Maafkan atas kesalahanku, kekhilafanku, kebodohanku ini.Aku memang bukan sahabat yang baik,My pal, my bestcomp,you're my little family.Wish you remember our memories!"

***





Posting Komentar