Little World

Little World

Jumat, 20 Maret 2015

My Fams Story


Masalah demi masalah terus datang. Kini harus muncul dari internal keluargaku sendiri. Ya, kakak ku kini benar benar out of control. Beberapa minggu lalu ini sudah dianggap selesai karena kakak ku bilang kalau sudah benar benar selesai dan memilih untuk menuruti apa kata mama dan yayahku. Tapi setelah sekarang meledak kembali, ternyata kakak ku berani berbohong dan bermain belakang. Itu hanya permainanan kakak ku saja untuk memainkan hati orang tua ku. Kakak ku hanya berpura-pura saja ternyata. 
Kini kakak ku memberontak kembali pada ayah dan mamaku. Dia lebih memilih orang lain diluar keluargaku dibanding yayah dan mama. Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga ia berani seperti ini. Dia bukan lagi kakak ku yang dulu. Dia benar-benar berubah setelah mengenal orang itu. Orang tua mana yang mau dan rela anak kesayangannya akan diambil oleh orang yang menyebabkan perubahan negatif ini pada anaknya. Alih alih dijanjikan segalanya namun kalau berdampak buruk pada anaknya siapa yang mau? 
Tapi herannya, kakak ku menentang mama dan yayahku padahal dibaliknya ada niat baik dari yayah dan mamaku. Kakak ku salah mengartikan hal ini, dan bersikukuh dengan pemikirannya sendiri. Entahlah, aku benar-benar kecewa. 

Selasa, 17 Maret 2015

IBU



Halo my second world, bukan alasan lain lagi kalau saya nulis disini gegara sepi hahaha. Ya, seperti tulisan saya kemarin, sepi itu menggiring saya untuk flashback. Nah, ini lagi dikondisi otak lagi ingin flashback. Maka dari itu saya mengalihkannya dengan menulis ini hahaha. Oke kali ini saya mau ngebahas tentang ibu, ya ibu saya yang jelas hahaha.
Dewasa ini sosok ibu sangat disoroti oleh masyarakat. Ibu adalah orang yang melahirkan kita dengan perjuangan keras hingga kematian menjadi taruhannya. Tapi dipikiran saya, apakah orang yang melahirkam manusia kedunia itu pantas menyandang kata "IBU"?  Dengan fenomena banyaknya seorang perempuan yang melahirkan manusia kedunia namun dengan teganya membunuh bakal teman dari kita, anak kita, bahkan saudara kita. Dibunuh, dibuang, dan tindakan kriminal lainnya dilakukan demi menghilangkan nyawa bakal manusia yang tak bersalah itu. Entah apa yang melatar belakangi hal itu. Seolah olah dikaruniai seorang bakal manusia itu sangat gampang padahal diluar sana banyak pasangan suami istri yang mengingkannya namun akibat penyakit, atau bahkan kemandulan membuat pasangan suami istri ini harus menelan keinginannya. 
Dan dizaman ini, hubungan suami istri sudah banyak dilakukan oleh muda mudi. Ini membuktikan kebobrokan mental dan jiwa muda mudi kita. Mereka dengan percaya dirinya melakukan tindakan itu, bahkan ada sebagian yang merekamnya dengan wajah wajah tak bersalah dan seolah sudah biasa saja. Apakah perempuan perempuan itu pantas dipanggil ibu? Dengan perilaku yang sejahat itu? 
Saya adalah lelaki yang dalam menuju kedewasaan, yang berkembang, semakin tahu realitas disekitar. Jujur saja, saya ketika kecil sangat nakal, ibaratnya sudah beberapa strip dibawah kedurhakaan hahahaha. Siapa sih yang mau menjadi anak durhaka? Tentu saja tidak mau. Bayangakan saja, durhaka itu konsekuensinya adalah neraka. Jadi siapa yang mau? Hahahaha. Namun dalam proses kedawasaan ini saya mulai berubah, namun saya merasa perubahan saya ini tidak seperti dewasa dewasa pada umumnya. Karena apa? Karena saya merasa seperti anak kecil ketika saya pulang kampung kerumah halaman. Saya balik lagi manja, sayang - sayangan sama mama, goda-godain mama, pokoknya seru seruan sama mama. Disisi lain, saya bersyukur dalam kondisi proses dewasa ini sifat kekanak-kanakan saya ini tidak sepenuhnya seperti ketika aku kecil dulu yang negatid sekali hahaha. Kini, saya lebih bisa menghargai orangtua khususnya mama saya. Mama saya adalah patokan kriteria buat saya dalam mencari istri nanti hahaha. Menurut saya, mama saya sudah sangat pantas sekali dipanggil "IBU". Kenapa? Karena mama saya telah memperjuangkan saya dari saya kecil, hingga saat kuliah seperti ini. Mama adalah bukti nyata keberadaan seorang malaikat didunia. Mereka rela melakukan apapun untuk anak mereka. Mereka tak peduli sesakit apa, yang terpenting adalah anaknya. Banyak hal yang harus kita tela'ah dari seorang sifat IBU walaupun kita adalah laki-laki. Karena dengan kita paham dan tahu bagaimana seorang ibu, maka kita juga akan tahu bagaimana yang seharusnya kita lakukan. Kita akan tahu tolak ukur antara baik dan buruknya kita, serta kita akan tahu sejauh apa kebaikan kita. 
So, buat kalian yang masih diberi waktu dan kesempatan untuk melihat Ibu kalian, memperjuangkannya seperti apa yg beliau perjuangkan untuk kalian. Maka, cepatlah kalian sadar, berubah dan tau diri. Perjuangkan ibu kalian, bahagiakan mereka. 

Sabtu, 14 Maret 2015

Kita dan Waktu


Sebagaimana waktu yang terus berputar dan berjalan kedepan tak pernah berjalan mundur dan mengembalikan kenangan lama. Maka pertemuan dan perkenalan dengan seseorang hingga terjadi saling interaksi dan komunikasi pun harus tertimpa kikisan waktu. Yang berawal baik belum tentu semakin baik, dengan waktu semua bisa berubah. Semakin waktu berputar dengan perubahan hari dan bulan bahkan tahun, maka kita akan dipertemukan dengan kehambaran. Mungkin kita masih berhubungan, berkomunikasi, namun tidak ada jiwanya. Hanya sekedar say hello kemudian hilang. Sekedar datang, tiba-tiba pergi. Itulah nanti sebuah kedewasaan. Kita hanya berhubungan seperlunya dan sepentingnya saja. Dan waktu tak bisa disalahkan. Semuanya sah-sah saja, karena memang sudah hakikinya waktu seperti itu. Ketika waktu berubah beriringan pula dengan perubahan personal seseorang. Membicarakan waktu adalah hal yang menyakitkan. Karena apa? Karena waktu akan menelan kejadian indah hari ini namun kita tak tahu esoknya akan seperti apa, indahkah atau menyedihkan. Waktu dengan enaknya mengambil kenangan kita, namun waktu tak menjanjikan kita esok hari. Maka dari itu, kita dituntut untuk bekerja keras untuk mengindahkan waktu esok hari.
Ditiap perubahan waktu, pasti ada orang-orang baru. Mungkin perkataan ini "kalau ada sahabat baru, sahabat lama akan terlupakan", perkataan ini seperinya benar. Kita tidak melupakan, tapi kita akan terlupakan. Hanya partner yang setialah yang senantiasa menemani tiap waktu kita. Kemarin, hari ini, dan esok hari. Hanya mereka yang setia dan loyal. 

Rabu, 11 Maret 2015

Kerinduan



Kadang sepi, sunyi, seperti sekarang ini menggiring segala pemikiranku untuk flashback ke belakang lagi. Entah ada hipnotis apa, dan ini bagian dari pertanda apa. Yang jelas, saya pun tak tau juga kenapa. Disaat orang lain memikirkan masa depannya, dengan tidak berlarut-larut dengan masa lalunya. Itu tak terjadi padaku, aku sibuk memikirkan kenangan lama yang seyogyanya harus aku simpan terlebih dahulu.
Saya merindukan pertemuan dengan rekan rekan anggota paskib angkatan saya, paskib smanba angkatan 2012. Saya merindukan suasana panas matahari, lelah, keringat, haus, tangis, kebersamaan, canda, tawa, sakit, semuanya saya nikmati dan saya bangga sekali ikut dalam baian keluarga ini. Pertengkaran menjadi bumbu kenangan yang tak terlupakan. Namun apa daya, tiap pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan bukan berarti harus kekal, perpisahan secara temporaripun menurutku bagian dari perpisahan. Karena apa? Karena dengan tidak dalam satu wilayah, tidak satu waktu, dan tidak satu kepentingan, maka quality time pun tidak sempurna. Dari situlah muncul perbedaan, saling melupakan, menjaga privasi lbh dalam baik karena diri sendiri ataupun tuntutan pekerjaan, dan komunitas baru yg tentu saja tiap orangnya berpikir komunitas itu lbh efektif sebagai penunjang dirinya. Semoga saja perkiraan saya ini tidak benar adanya. Semoga kita senantiasa saling mengingat dan merindukan. Sebab tak ada daun yang membenci angin yang telah menjatuhkannya🍂🍃

Sabtu, 07 Maret 2015

Dibalik Sebuah Maksud Hati

Sebuah kapal pesiar mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju ke skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Guru yang menceritakan kisah ini bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang istri itu teriakkan?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab, “Aku benci kamu!” “Kamu tau aku buta!!” “Kamu egois!” “Nggak tau malu!”

Tapi guru itu kemudian menyadari ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam saja itu menjawab.  Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik’”.

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Tapi itu yang dikatakan oleh mama saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”

Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya  naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup.  Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.”

Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moral dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita sering pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah kita seharusnya jangan pernah melihat hanya di luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, tapi karena mereka menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar,  mungkin bukan karena mereka bersalah, tapi karena mereka menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, tapi karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, tapi karena kamu ada di dalam hatinya...😂